Pengalaman Pribadi

Cerita Masa Kecil

Artikel pertama saya adalah tentang kisah dan pengalaman waktu kecil. Dalam menjalani kehidupan pasti ada suka maupun duka. Karena masa kecil adalah kenangan yang berharga dan semua orang pasti melewati masa-masa tersebut

Apalah Arti Sebuah Nama

Perkenalkan saya, Ahmad Mandala Dewantara. Lahir di bulan Mei 24 tahun yang lalu. Lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan tokoh pendidikan nasional, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Mungkin karena itulah nama akhiran saya terdapat sepenggal nama sang pahlawan. Bisa jadi kedua orang tua saya terinspirasi dari beliau dan berharap agar kelak sang anak bisa menjadi sosok yang bisa berkontribusi terhadap dunia pendidikan.

Cerita Masa Kecil
Foto Masa Kecil

Meski ada istilah “Apalah arti sebuah nama”. Tapi bagi saya nama pemberian dari orang tua ini adalah nama yang baik dan sarat akan harapan. Karena sesungguhnya ada doa dalam sebuah nama. Sungguh sesederhana itu harapan dari orang tua. Semoga kelak saya bisa mewujudkan harapan tersebut.

Saya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Hal menarik dari anak nomor satu sampai nomor tiga adalah selisih tahun kelahiran yang masing-masing tiga tahun (kecuali si bungsu selisih empat tahun). Saya masih ingat ketika tahun 2006, tepatnya tahun ajaran baru. Itu adalah tahun sibuk bagi keluarga saya. Ya, di tahun itu bertepatan kelulusan sekolah antara saya, kakak dan adik. Kakak saya lulus dari SMA lalu melanjutkan kuliah. Saya sendiri lulus SMP lalu naik tingkat ke SMA. Terakhir adik saya yang perempuan lulus dari SD dan pindah ke SMP.

Sungguh tak terbayang betapa beratnya keadaan waktu itu, tentang berapa biaya pendidikan yang harus dikeluarkan, belum kebutuhan-kebutuhan lain yang harus terpenuhi. Teringat perkataan Ibu waktu itu (dalam bahasa jawa tentunya) yang kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini “Sudah nak, tak usah risau tentang biaya. Itu urusan orang tua. Tugasmu hanyalah belajar. Pikirkan saja tentang sekolahmu, pendidikanmu. Urusan biaya Abah dan Ibu saja yang urus. Insya Allah semua ada jalannya.”

Ya Allah, rasanya terharu tapi nyesek juga. Seperti inikah pengorbanan orang tua kepada anak-anaknya. Alhamdulillah, dari situlah saya belajar untuk selalu menghargai orang tua serta patuh kepada keduanya, karena segala yang sudah saya raih hingga sekarang ini adalah berkat jasa kedua orang tua. Semoga keduanya senantiasa dinaungi kesehatan dan selalu diberkahi Allah.

Nama Panggilan

Di dalam keluarga, saya biasa dipanggil dengan sebutan “Nda” , diambil dari bagian tengan nama saya. Beda lagi di sekolah. Waktu SD hingga SMA saya suka dipanggil “Man”. Kadang ada yang manggil “Nda” juga sih, cuma agak jarang. Sewaktu di bangku kuliah beda lagi nih panggilannya. Sama teman-teman kuliah saya dipanggil “La”. Dan di setiap lingkungan yang baru, pasti baru pula cara bergaulnya. Bahkan termasuk soal pemanggilan nama pun terkadang berbeda di tiap tempat. Untuk urusan nama nih kalau saya sih terserah orang mau panggil. Yang penting mereka senang, saya sih asik-asik saja.

Bicara soal nama nih, ada satu hal yang agaknya lucu juga. Jika dipikir-pikir beruntung juga orang tua saya memutuskan memberi nama Dewantara. Coba kalau dulu Abah atau Ibu agak lebay dalam memberi nama, mungkin nama saya bukan lagi Ahmad Mandala Dewantara. Mungkin nih, karena terlalu terinspirasi oleh sosok Ki Hajar Dewantara bisa jadi nama saya Ahmad Hajar Dewantara. Lalu orang-orang pada manggil Hajar. “Ya udah, hajar bro. Sikat, hahaha…”

Masa-masa TK

Saya beranjak TK umur 5 tahun. Pada waktu itu berangkat sekolah bersama ibu. Ibu saya adalah seorang pengajar di salah satu Sekolah Dasar di desa tetangga. Kebetulan di SD tersebut ada TK juga. Oh iya, saya belum sempat cerita. Dalam keluarga sebagian besar berprofesi sebagai guru, baik negeri maupun swasta. Mulai dari Abah, Ibu, hingga kakak saya pun mengikuti jejak orang tua menjadi guru. Begitu juga Paman-paman dan bibi saya berprofesi yang sama.

Taman kanak-kanak
www.coroflot.com

Kembali ke cerita, jadi waktu itu ikut Ibu satu tahun. Disanalah awal ketemu teman-teman baru. Singkat cerita nih, karena dirasa cukup jauh jarak antara sekolah dengan rumah, akhirnya di tahun kedua TK saya dipindahkan ke TK di desa sendiri. Selain lebih dekat dengan rumah, saya tak perlu khawatir jika harus berangkat ke sekolah ataupun pulang ke rumah sendirian.

Sekolah baru, lingkungan baru juga teman yang baru. Mau tidak mau harus bisa beradaptasi. Itu yang saya rasakan di awal-awal. Terlebih saya orangnya jarang ngomong juga. Saya memang orangnya pendiam.

Teori Kepribadian

Karena sudah menyinggung soal pendiam, jadi ingat dulu waktu kuliah ambil mata kuliah Personality Development. Kala itu membahas tentang jenis kepribadian manusia.

Menurut dokter psikologi berkebangsaan Swiss, Carl Gustav Jung (Carl Jung) bahwa seseorang secara umum dibagi menjadi 3 jenis kepribadian. Introvert atau Intraversion, Extrovert atau Extraversion dan Ambivert atau Ambiversion (lain waktu akan dibahas masalah ini). Yang setelah saya pelajari teori tersebut, sepertinya saya ada di part introvert nih.

Ya sudahlah, seperti inilah saya. Memang bawaan dari lahir seperti ini, hehehe… Tapi kalau sudah kenal sama orang sih Insya Allah bisa akrab dan jadi teman yang baik. “Pada gak percaya ya?? Silakan tanya temen-temen saya kalo gak percaya.”

Bicara Tentang Cita-cita

Suatu hari saat jam pelajaran guru TK saya menanyakan kepada satu persatu muridnya tentang apa yang dicita-citakan. Dengan polosnya teman-teman saya satu persatu menyebutkan apa cita-cita mereka. Ada yang mau jadi dokter, ada yang pilot, jadi polisi, tentara dan lain-lain. Hingga tiba saatnya giliran saya ditanya tentang apa cita-cita saya dewasa nanti. “Mau jadi guru, Bu!” jawab saya ketika itu.

Memang, yang ada di pikiran saya ketika itu adalah menyebutkan profesi kedua orang tua. Karena saya pikir keduanya adalah orang baik, pastinya segala sesuatu yang dikerjakan saat itu adalah suatu pekerjaan yang baik. Maka dari itu cita-cita saya sewaktu kecil adalah menjadi guru. Seiring waktu yang terus bergulir, cita-cita pun berubah.

Proses Terjadinya Hujan

Gambar Hujan
news.okezone.com

Banyak hal yang berkesan di masa kecil saya. Dan salah satu yang paling saya ingat ketika kecil adalah takut hujan, lebih tepatnya takut waktu akan turun hujan. Waktu TK dulu memang masih belum belajar tentang pengetahuan alam. Setelah masuk SD dan mendapat materi pelajaran IPA barulah sedikit mengerti tentang bagaimana proses terjadinya hujan. Sekilas flashback materi pelajaran IPA waktu SD.

Hujan adalah proses turunnya titik-titik air dari udara ke permukaan bumi. Air disini bisa air laut, sungai, dan lain sebagainya yang terkena matahari sehingga menguap ke atas udara yang terus menerus bergerak ke atas atmosfer. Kumpulan uap-uap tadi berkumpul dan membentuk awan. Karena uap air yang terkumpul menjadi banyak maka terjadilah awan mendung. Singkatnya semakin banyak yang terkumpul dan semakin berat pula sehingga tidak mampu disimpan lagi maka jatuhlah titik-titik air tersebut ke bumi (Insya Allah artikel tentang hujan akan dikupas lain waktu).

Masalahnya waktu kecil belum ada materi pembelajaran sekompleks itu. Saya sih mikirnya dulu awan di langit-langit seakan mau runtuh. Apalagi kalau awan mendungnya terlihat rendah, sudah rendah gelap pula. Ditambah lagi ada efek angin kencang, yang membuat suasana semakin mencekam saja. Hal itulah yang sangat-sangat saya takutkan.

Awan Mendung
upload.wikimedia.org

Respons cepat saya ketika itu adalah dengan segera menutup semua pintu dan jendela. Pokoknya tak ada seorangpun yang boleh membuka pintu ataupun keluar rumah. Anehnya orang-orang disekitar saya malah senyum-senyum bahkan tertawa melihat tingkah heboh saya. “Ini orang-orang kenapa sih? Diluar langit mau runtuh kok malah pada ketawa? Gak takut kejatuhan langit apa gimana?” pikir saya waktu itu.

Jika ingat memori masa kecil, lucu tapi aneh juga sih. Namanya juga anak kecil kan ya, maklum saja. Memang di dalam hidup selalu ada hal-hal yang berkesan, yang kadang sepele namun bisa jadi cerita yang menarik. Terlebih hal-hal yang aneh dan lucu, terkadang bisa membekas menjadi kenangan yang sulit terlupakan.

Hidup Adalah Perjalanan

Perjalanan Hidup
www.xraycattravels.com

Kata orang hidup adalah sebuah perjalanan. Ada kalanya jalan tersebut bagus dan lancar. Tak ada halangan yang berarti. Maka dari itu, selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah beri. Terkadang dalam perjalanan hidup ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan bahkan terasa berat untuk dilalui. Maka terus bersemangat dan senantiasa bersabar serta berbaik sangka kepada Allah.

Selayaknya sebuah perjalanan, pasti ada tujuan akhir yang mau dicapai. Suatu tempat tujuan yang akan mengakhiri sebuah perjalanan. Dimana tempat tujuan akhir itu? Tentunya di akhirat yang kekal.

Baca selanjutnya : Hal Yang Paling Berkesan Semasa SD, Cerita Waktu SMP, Hari-hari di Pesantren, Pengalaman Menarik Ketika SMA, Suka Duka Menjadi Seorang Mahasiswa

Originally posted 2016-02-15 01:46:58.

Postingan ini ditulis oleh :

Admin

Where There is a Will, There is a Way

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*