Masya Allah! Ketika Lelaki Ini Wafat, Sungguh ‘Arsy Bergetar

Ketika itu, lautan kaum Muslimin baik dari kalangan Muhajirin maupun dari Anshar jadi saksi kepergian lelaki ahli surga ini. Wafatnya membuatnya ‘arsy bergetar. Walau dia dikenal dengan tubuhnya yang besar juga fisiknya yang tinggi, namun para pengusung kerandanya tidak merasakan beban ketika mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Siapakah beliau? Apakah yang menyebabkannya wafat dengan sangat mulia?

Dia adalah Sa’ad bin Muadz, salah satu sahabat setia Nabi. Seorang sahabat yang terdepan dalam jihad & shaf shalat. Dan ketika beliau wafat, sahabat-sahabat Nabi yang lainnya terheran-heran dan saling berbisik, “Mengapa jasadnya ringan? Padahal beliau adalah salah satu sahabat Nabi dengan sosok yang tinggi juga besar?”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mengetahui akan hal tersebut lalu menyampaikan sebabnya, “Ada sekian banyak pengusung selain dari kalian.” Nabi pun bersumpah, “Demi Allah Ta’ala yang jiwaku berada dalam Genggaman-Nya, para malaikat menyongsong dengan sangat gembira akan kedatangan ruh Sa’ad. Bahkan sungguh ‘Arsy pun bergetar.” Masya Allah!

Kala rombongan pengantar jenazah memasuki lautan gurun pasir untuk menuju pemakaman, ketika itu batu-batu kecil berguguran dari bukit. Mereka berjalan ke suatu tempat, seolah ingin menunjukkan dimana sahabat Nabi itu akan dimakamkan.

Ada cerita lain dari para sahabat Nabi yang kala itu menggali makamnya. Dalam tiap-tiap cangkul tanah berpasir yang tergali, selalu mengeluarkan semerbak aroma wangi. Hingga akhirnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri yang memasukkan jenazah ke liang lahat, lalu menimbunnya dengan tanah. Sungguh betapa mulianya.

pixabay.com

pixabay.com

Seperti itulah akhir hayat para mujahid yang bersungguh – sungguh berjuang di jalan Allah Ta’ala. Mereka berjuang dengan jiwa dan raganya dengan kualitas keikhlasan terbaik yang hanya berharap Ridha-Nya, bukan untuk urusan harta dunia, wanita, atau sesuatu yang sepele.

Fisik mereka mewangi, kepergian mereka memberikan inspirasi, pribadinya dan akhlaknya menjadi perbincangan di generasi-generasi setelahnya dari kalangan kaum Muslimin yang rindu akan kematian serupa. Ya, meskipun sudah berkalang tanah, pada hakikatnya mereka senantiasa hidup.

Sungguh seharusnya kita iri kepada mujahid – mujahid seperti mereka. Seharusnya kita contoh jihad mereka, berjuang dengan sepenuh hati. Dengan niat bukan untuk menjadi perbincangan generasi selanjutnya yang ditinggalkan, namun agar kita layak mendapat balasan surga.

Karena surgalah warisan terbaik, tempat dimana segala kenikmatan tanpa adanya batasan. Itulah tempat peristirahatan terakhir kita, yang luasnya lebih dari langit dan bumi.

Meski diri kita saat ini belum pantas mendapat surga. Namun tetaplah konsisten memperbaiki diri. Dan mari terus meminta surga. Juga memohon dihindarkan dari siksa neraka. Karena diri kita yang lemah ini sungguh tidak kuasa menanggung siksa api neraka.

Ingin tampil sunnah di setiap aktifitas dan ibadah sehari-hari? Kenapa nggak pakai jubah muslim aja? Cek disini!

Originally posted 2016-03-23 14:16:48.

One Response

  1. Aireni Biroe 26 Maret 2016

Leave a Reply