Sejarah Koperasi di Indonesia

Sejarah Koperasi di Indonesia – Definisi koperasi berasal dari bahasa Latin cum (yang artinya dengan), dan koperasi (yang artinya bekerja). Dari dua kata tersebut maka koperasi dapat diartikan bekerja dengan orang-orang lain.

Menurut Arifinal Chaniago, koperasi sebagai suatu perkumpulan yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum, yang memberikan kebebasan kepada anggota, dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya.

Sedangkan menurut Munker, koperasi sebagai organisasi tolong menolong yang menjalankan “urus-niaga” secara kumpulan, yang berasaskan konsep tolong menolong.

Koperasi di Indonesia

Koperasi di Indonesia, sesuai dengan definisi pada Undang-Undang tahun 1992, adalah suatu badan usaha yang beranggotakan perorangan atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat berdasarkan atas asas kekeluargaan.

Prinsip koperasi di Indonesia terdapat dalam Undang-Undang nomor 12 tahun 1967 dan Undang-Undang nomor 25 tahun 1992.

Koperasi di Indonesia secara garis besar sama dengan prinsip yang diakui dunia internasional dengan adanya sedikit perbedaan, koperasi di Indonesia mengenal adanya Sisa Hasil Usaha (SHU).

Sejarah Koperasi di Indonesia

Koperasi sejarah koperasi sejarah koperasi di indonesia

id.wikipedia.org

Dimulai pada sekitar abad ke-20 gerakan koperasi di Indonesia pada umumnya merupakan hasil dari usaha yang tidak direncanakan secara langsung dan pelakunya bukan dari golongan orang-orang kaya. Koperasi di Indonesia tumbuh dari kalangan rakyat kecil, disaat kondisi ekonomi yang serba terbatas dan kecemburuan sosial yang timbul karena sistem kapitalisme merajalela.

Atas dasar beban ekonomi serta didorong oleh penderitaan yang sama, secara spontan bersatu saling tolong menolong untuk kepentingan dirinya sendiri dan orang-orang sekelilingnya.

Sejarah mencatat pada tahun 1896 seorang pamong praja patih bernama R. Aria Wiriaatmaja yang kala itu tepatnya di Purwokerto mendirikan sebuah Bank untuk para priyayi (pegawai negeri). Ia terdorong oleh keinginannya untuk menolong para pegawai yang makin menderita karena rentenir yang menggurita kala itu yang memberikan pinjaman namun dengan bunga yang tinggi. Sang patih bermaksud ingin mendirikan koperasi kredit layaknya di Jerman.

Harapan tersebut selanjutnya diteruskan oleh seorang asisten residen Belanda. Asisten residen yang bernama De Wolffvan Westerrode ini sewaktu cuti berhasil mengunjungi Jerman dan menganjurkan akan mengubah Bank Pertolongan Tabungan yang kala itu sudah ada menjadi Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian.

Selain pegawai negeri atau priyayi juga para petani perlu mendapatkan bantuan karena mereka sangat menderita akibat tekanan para pengijon pada zaman itu. Untuk itu dia juga menganjurkan mengubah Bank tersebut menjadi koperasi.

Di samping itu ia pun mendirikan lumbung-lumbung desa yang menganjurkan para petani untuk menyimpan hasil pertaniannya ketika musim panen dan memberikan pertolongan pinjaman padi pada musim paceklik. Ia pun berusaha agar lumbung-lumbung yang sudah banyak jumlahnya tersebut menjadi Koperasi Kredit Padi.

Namun pemerintah kolonial Belanda pada waktu itu berpendirian lain. Oleh pemerintah kolonial, Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian dan Lumbung Desa tidak dijadikan koperasi tetapi pemerintah Belanda membentuk lumbung-lumbung desa baru, bank –bank desa, rumah gadai dan Centrale Kas yang kemudian bernama Bank Rakyat Indonesia (BRI). Itu semua merupakan badan usaha pemerintah dan dipimpin oleh orang-orang pemerintah.

Sejarah Koperasi di Indonesia

sejarah koperasi di indonesia

Menurut sejarah koperasi di Indonesia pada zaman kolonial Belanda belum dapat terlaksana dikarenakan beberapa sebab :

  • Belum ada instansi pemerintah ataupun badan non pemerintah yang memberikan penerangan dan penyuluhan koperasi di Indonesia.
  • Belum ada undang-undang yang khusus mengatur koperasi di Indonesia.
  • Dari pemerintah kolonial Belanda sendiri masih ragu-ragu mengembangkan koperasi di Indonesia mengingat situasi politik, karena khawatir koperasi di Indonesia itu akan digunakan oleh kaum intelek untuk tujuan yang dapat membahayakan jalannya pemerintahan.

Dan untuk mengantisipasi perkembangan koperasi yang sudah mulai memasyarakat, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan peraturan perundangan tentang perkoperasian. Awalnya, diterbitkan peraturan perkumpulan koperasi nomor 43, tahun 1915. Disusul kemudian pada tahun 1927 keluar peraturan nomor 91 tahun 1927, yang mengatur tentang perkumpulan-perkumpulan koperasi bagi golongan Bumiputra.

Pada tahun 1933, pemerintah kolonial Belanda menetapkan Peraturan Umum berkaitan dengan perkumpulan-perkumpulan koperasi nomor 21, tahun 1933. Peraturan tahun 1933 itu, hanya diberlakukan untuk golongan yang taat terhadap aturan hukum barat, sedangkan peraturan tahun 1927, berlaku bagi golongan Bumiputra. Disinilah terjadi diskriminasi terhadap kehidupan berkoperasi di Indonesia.

Hingga pada tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan andil bagi gerakan koperasi di Indonesia dalam rangka memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging, dan pada tahun 1927 Regeling Inlandschhe Cooperatieve.

Pada tahun 1927 dibentuk Sarikat Dagang Islam. Tujuannya untuk memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusaha-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdirilah Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi di Indonesia.

Namun, pada tahun 1933 keluar Undang-Undang yang mirip Undang-Undang nomor 431 sehingga mematikan usaha koperasi di Indonesia untuk yang kedua kalinya. Pada tahun 1942 Jepang mulai menduduki Indonesia dan mendirikan koperasi Kumiyai. Awalnya koperasi ini berjalan baik. Namun lama kelamaan fungsi koperasi di Indonesia ini berubah menjadi alat Jepang untuk mengambil keuntungan, dan menyengsarakan rakyat Indonesia.

Setelah diproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 12 Juli 1947, menurut sejarah koperasi di Indonesia menyelenggarakan kongres koperasi yang pertama kalinya di Tasikmalaya. Ini menandakan ditetapkannya hari tersebut sebagai Hari Koperasi Indonesia. Sekaligus mendirikan Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI) di Tasikmalaya (Bandung sebagai ibukota provinsi sedang diduduki oleh tentara kolonial Belanda).

Fungsi Koperasi

koperasi sejarah koperasi di indonesia

www.beritapns.com

Fungsi koperasi di Indonesia tertuang dalam pasal 4 Undang-Undang nomor 25 tahun 1992 tentang perkoperasian yaitu:

  • Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya demi meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
  • Berperan serta secara aktif dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
  • Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai landasan kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional bersama koperasi sebagai soko gurunya.

Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

Koperasi Berlandaskan Hukum

Koperasi berbentuk badan hukum menurut Undang-Undang nomor 12 tahun 1967 adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan perorangan ataupun badan hukum koperasi merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama, berdasarkan asas kekeluargaan.

Dalam hal ini kinerja koperasi khusus menangani perhimpunan, koperasi harus bekerja berdasarkan ketentuan undang-undang umum tentang organisasi usaha serta hukum dagang dan hukum pajak.

Macam-Macam Koperasi

Koperasi secara garis besar dibedakan empat yakni bidang usaha, jenis komoditi, jenis anggota, daerah kerja.

Berdasarkan Bidang Usaha, Koperasi Dibedakan Menjadi :

  • Koperasi konsumsi yaitu koperasi yang berusaha dalam bidang penyediaan barang-barang konsumsi yang untuk anggota-anggotanya.
  • Koperasi produksi yaitu koperasi yang kegiatan utamanya melakukan mengolah bahan baku menjadi barang setengah jadi atupun barang jadi.
  • Koperasi kredit/simpan pinjam yaitu koperasi yang bergerak dalam bidang simpan dana dari anggotanya, lalu dipinjamkan kembali kepada para anggota yang memerlukan bantuan modal.
  • Koperasi pemasaran yaitu koperasi yang dibentuk terutama untuk membantu para anggotanya dalam memasarkan barang-barang yang mereka hasilkan.

Berdasarkan Jenis Komoditi, Koperasi Dapat Dibedakan Menjadi :

  • Koperasi pertanian dan peternakan yaitu koperasi yang melakukan usaha sehubungan dengan komoditi pertanian tertentu.
  • Koperasi pertambangan yaitu koperasi yang mengkhususkan usaha dalam menggali atau memanfaatkan sumber daya alam secara langsung atau dengan sedikit mengubah bentuk dan sifat sumber daya alam tersebut.
  • Koperasi jasa-jasa yaitu koperasi yang mengkhususkan usahanya dalam bidang produksi dan memasarkan kegiatan jasa tertentu.
  • Koperasi industri dan kerajinan yaitu koperasi yang melakukan usahanya dalam bidang industri atau kerajinan tertentu.

Berdasarkan Jenis Anggota, Koperasi Dibedakan Menjadi:

  • Koperasi karyawan.
  • Koperasi pondok pesantren.
  • Koperasi pedagang pasar.
  • Koperasi mahasiswa.
  • Koperasi angkatan darat.
  • Koperasi pramuka.
  • Koperasi peran serta wanita.

Berdasarkan Daerah Kerja Koperasi Dibedakan Menjadi:

  • Koperasi primer yaitu koperasi yang beranggotakan beberapa orang, dan biasanya didirikan pada lingkup kesatuan wilayah terkecil tertentu.
  • Koperasi sekunder/pusat koperasi yaitu koperasi yang anggotanya adalah dari koperasi-koperasi primer. Koperasi-koperasi seperti ini biasanya didirikan sebagai pemusatan dari beberapa koperasi primer dalam wilayah tertentu.
  • Koperasi tersier/induk koperasi yaitu koperasi yang di dalamnya berisi koperasi-koperasi sekunder yang berkedudukan di ibu kota negara.

Leave a Reply