Takut Jarum Suntik

Suatu pagi suasana di SDN Miru tampak tak ada bedanya dengan hari sebelumnya. Ya, ketika itu memang hari aktif belajar mengajar di sekolah. Sama sibuknya seperti hari-hari biasanya. Guru-guru sibuk menyampaikan materi ajar, sedangkan murid-murid duduk tenang di bangku masing-masing.

Kegiatan Belajar di Kelas

blog.unpad.ac.id

Saya berada di salah satu kelas waktu itu sedang ada jam pelajaran. Sambil menyimak guru yang sedang mengajarkan materi, saya iseng-iseng melihat ke jendela. Dari sanalah saya melihat segerombol orang-orang berbaju Dinas Kesehatan mendatangi sekolah saya.

“Eh ada apa ya? Kok banyak orang berseragam berduyun-duyun kemari?” saya yang tak tahu menahu hanya bisa bertanya dalam hati. Saya bersama teman-teman sekelas cukup antusias melihat kedatangan mereka. Belakangan diketahui bahwa orang-orang ini adalah orang dari Puskesmas Kecamatan Sekaran yang akan mengadakan kegiatan imunisasi di SDN Miru, sekolah tempat saya menuntut ilmu.

Selang beberapa saat setelah kedatangan orang-orang dari Puskesmas, mereka pun mendatangi setiap kelas. Di dalam kelas mereka menjelaskan tentang pentingnya imunisasi untuk para murid sebagai salah satu bentuk tindakan pencegahan (preventif) terhadap penyakit menular. Saya yang tak tahu seperti apa model ataupun bentuk pemberian imunisasi tersebut hanya bisa diam ketika mereka menjelaskan hal tersebut. Seingat saya waktu TK dulu imunisasi dikasih semacam cairan yang diminum.

Saya pikir imunisasi SD juga seperti itu, cukup dikasih cairan atau pil lalu diminum. Ternyata dugaan saya salah. Pemberian imunisasi dilakukan melalui suntik. Dengan ekspresi kaget saya berteriak pelan “Hah?! Disuntik?!”

Satu hal yang paling saya hindari ketika sakit adalah suntik. Jadi kalau sakit lalu pergi ke Puskesmas/Rumah Sakit saya sering tanya dulu sama dokternya “Dok, separah apa sakitnya? Apa harus disuntik, Dok?” Intinya suntik bagi saya adalah opsi terakhir jika sakitnya sudah tidak bisa ditangani dengan obat-obatan dan sebagainya.

Kembali ke cerita di sekolah. Setelah dijelaskan panjang lebar tentang manfaat imunisasi dan lain-lain, tibalah waktunya “eksekusi”. Murid-murid pada antri menunggu giliran untuk disuntik. Karena ini adalah anjuran yang (katanya) penting untuk kesehatan dan kekebalan tubuh, maka dengan berat hati saya ikut mengantri (di salah satu antrian terakhir pastinya).

Siswa Antri Untuk Disuntik

rimanews.com

Para murid satu demi satu maju ke depan mendatangi “sang eksekutor”. Selesai disuntik murid-murid diminta keluar ruangan, kelas yang tadinya penuh perlahan-lahan berkurang. Hingga giliran saya yang maju ke depan untuk dieksekusi. Sebenarnya masih ada beberapa anak di belakang saya, tapi sepertinya mereka malu-malu (kalau tak mau dibilang takut) untuk maju ke depan. Saya coba memberanikan diri untuk maju, toh pada akhirnya semua bakal disuntik juga.

Ekspresi Anak Lagi Disuntik

antaranews.com

Deg-degan rasanya. Apalagi saat melihat jarum yang siap untuk disuntikkan ke bagian bawah pinggang saya. Ingin lari sejauh-jauhnya tapi sudah terlanjur dihadapkan dengan kenyataan bahwa saat itu juga saya harus disuntik.

Saya duduk di kursi yang sudah disiapkan. Ketika orang-orang memegangi saya, badan terasa gemetar. Dan saat pinggang saya disentuh, refleks saya teriak “Aduh!!!” Tiba-tiba seseorang menepuk pundak saya. Saya palingkan muka ke belakang. Oh ternyata guru saya yang barusan menepuk pundak saya, sambil berkata “Kamu nih belum apa-apa kok sudah bilang aduh.”

Ternyata suntik tadi belum mengenai kulit saya. Mungkin karena saking grogi dan takutnya sehingga baru disentuh petugas saja saya langsung teriak. Saya pun tersipu malu. Apalagi melihat orang-orang yang berada disitu juga ikut senyum-senyum saya menjadi agak canggung.

Dan moment yang ditunggu pun tiba. Saat pinggang saya dipengang oleh petugas, saya sudah tidak teriak lagi. Hanya badan saya yang bergetar entah berapa Skala Richter, yang pasti getaran ini saya saja yang merasakannya. Hingga beberapa saat kemudian, jarum suntik menerobos lapisan kulit. “Aduuhh!!” saya hanya bisa teriak dalam hati. Luar biasa sakitnya, saya pikir jarum suntiknya tembus sampai ke tulang.

Suasana hening sejenak. Saya pun tak sempat menghitung berapa lama si jarum suntik ini menancap, menjadi bagian dari anggota tubuh saya yang baru. Hingga akhirnya jarum suntik pun perlahan dicabut. Terasa jelas gesekan antara kulit dengan jarum suntik yang sedang ditarik. Rasanya agak perih-perih gimana gitu.

Jarum suntik dicabut sudah. Yang jadi pertanyaan, kenapa rasa perihnya masih tertinggal? Rasa-rasanya jarum suntik masih tertanam disitu. Apa mungkin saat proses penarikan si jarum suntik tadi  masih tertinggal di bawah pinggang? Ya Allah, sakit banget. Cenat-cenut rasanya.

Karena sudah selesai prosesi suntik, saya diminta keluar kelas. Saya pun keluar kelas sambil memegangi pinggang bagian bawah saya yang sakitnya belum kunjung reda. Di luar kelas saya lihat teman-teman yang sudah selesai suntik duluan. Sebagian ada yang masih meringis kesakitan sambil memegangi bagian tubuh bekas suntikan. Yang lainnya menertawakan teman-teman yang kesakitan, termasuk saya pun jadi bahan tertawaan. Tapi akhirnya saya lega karena sudah melewati proses menyakitkan ini.

Saya lupa berapa kali orang-orang dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan datang ke sekolah saya dalam rangka memberikan suntik imunisasi. Namun setiap kali mereka datang entah mengapa jantung ini terasa berdegup kencang tak beraturan. Adrenalin meningkat seiring aliran darah yang mengalir cepat. Apakah ini yang dinamakan cinta?

Leave a Reply