Terlambat ke Sekolah

Pagi itu tidak seperti biasanya. Saya yang biasanya jam 6 sudah bangun, pagi itu masih khusyu’ di tempat tidur. Sepertinya kedua orang tua sengaja tidak membangunkan saya. Dan itu sangat berakibat fatal.

Jam menunjukkan pukul 6 lewat banyak. Ya, pagi itu saya terlambat bangun pagi. Dan itulah yang akhirnya membuat saya terlambat berangkat ke sekolah. Setelah bangkit dari kasur, segera saya ke belakang untuk mandi.

Bangun Kesiangan

khalifah.co.id

Ujian saya di pagi hari adalah melawan rasa dingin. Ya, hampir setiap hari sedari kecil hingga sebesar ini saya begitu tak kuasa untuk mandi pagi. Saya tak mampu menahan rasa dingin suhu di pagi hari. Tapi karena waktunya sudah mepet, dan saya harus segera berangkat ke sekolah agar tidak terlambat, mau tidak mau saya harus melawan rasa dingin.

Jujur, saya adalah tipe orang yang jarang mandi. Baru mandi kalau ada urusan-urusan tertentu yang diharuskan untuk mandi, seperti sekolah atau mungkin pergi. Kalau hari itu hari libur dan tak ada acara keluar rumah, ya mandinya satu kali saja waktu sore. Hitung-hitung hemat air lah. Yah, kebuka lagi deh aib saya. Semoga ini aib yang terakhir kalinya saya ceritakan di blog ini.

Singkat cerita setelah selesai mandi lalu sarapan saya pun pergi ke sekolah. Ketika itu saya naik sepeda. Di sepanjang jalan saya berpikir nanti kena hukuman apa, tapi hati kecil saya bilang “Sudahlah bro, gak usah dipikir. Telat ya telat aja. yang penting besok gak ngulangin telat lagi.”

Akhirnya saya sampai di sekolah. Pagi itu bisa dibilang apes karena saya telatnya pas bareng teman-teman yang sering telat. “Elah, sial banget sih. Telat kok barengan sama anak-anak bandel,” dalam hati saya bicara.

Siswa Terlambat ke Sekolah

papasemar.com

Sudah kuduga, akan ada sesi eksekusi terhadap siswa-siswa yang terlambat ke sekolah. Tau sendiri kan, kalau telat hukumannya apa? Ya, kalau tidak dijemur di lapangan ya disuruh lari. Kadang juga disuruh push up, sit up atau hukuman lain. Dan hukuman yang paling ringan adalah memunguti sampah-sampah di sekitaran sekolah. Tapi pagi itu hukumannya lebih kejam dari biasanya, extraordinary punishment lah pokoknya.

Anak SD Dihukum

blognasiauva.blogspot.com

Akhirnya waktu eksekusi tiba. Kepala sekolah yang turun tangan langsung. Kalau tidak salah waktu itu ada 6 orang yang telat. Setelah diberi aneka macam siraman rohani, masing-masing dari siswa yang telat (termasuk saya salah satunya) disuruh pulang. “Waduh gawat nih disuruh pulang segala lagi. Mau bilang apa nih sama orang rumah, kan gak mungkin juga bohong pakai alasan ini dan itu, pikir saya waktu itu.” Belum selesai sampai disitu. Pak kepala sekolah melanjutkan wejangannya, “Kalian pulang sekarang. Nanti sampai di rumah, yang punya sabit ambil sabit, yang punya cangkul ambil cangkul.”

Usut punya usut ternyata anak-anak bandel ini disuruh membersihkan halaman sekolah yang rumputnya sudah mulai panjang. Dalam hati bilang, “Alamak, saya kan gak pernah pegang sabit, cangkul dan sejenisnya. Mana bisa saya pakai alat-alat itu?”. Ya sudahlah, saya kan orangnya penurut. Disuruh pulang sama guru ya nurut pulang.

Singkat cerita saya pulang nih, sampai di rumah kalau tidak salah ketemu sama nenek. Memang kalau hari-hari biasa (masuk sekolah) di rumah sepi, cuma ada kakek sama nenek. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, profesi kedua orang tua saya adalah seorang guru. Jadi dari hari Senin sampai Sabtu dari pagi hingga siang keduanya tak ada di rumah.

Lanjut ke cerita, sudah ambil sabit langsung balik ke sekolah. Disana anak-anak sudah pada kumpul. Ada yang bawa sabit (seperti saya), bawa cangkul, sama bawa karung. Sambil baris nunggu komando (sudah seperti mau perang saja ya), akhirnya dimulailah bersih-bersih. Karena dari awal memang tak pernah pegang sabit sebelumnya, akhirnya terjadilah insiden yang memilukan (yah, mulai lebay).

Dihukum Membersihkan Rumput

sdkandeman01.blogspot.com

Ketika lagi membersihkan rumput, sambil belajar dan mengamati teman-teman lain yang sudah jago dalam masalah sabit menyabit. Secara tidak sengaja sabit yang saya pegang mengenai salah satu jari tangan kiri (entah jari telunjuk atau jari yang mana saya lupa). “Aduh!!” saya hanya bisa teriak pelan-pelan. Sambil memegang jari tangan yang lagi berdarah-darah, diam-diam saya meninggalkan arena eksekusi.

Untung waktu itu lukanya tak terlalu parah. Akhirnya setelah ditangani dengan baik dalam beberapa hari luka tersebut sembuh. Alhamdulillah.

Leave a Reply